Mustofa Menjawab;
Hei penduduk Orfulis, angin menyuruhku untuk meninggalkan kalian. Yang lebih lambat dari angin adalah aku, tetapi aku harus pergi.
Hari-hariku terasa pendek di antara kalian, dan yang terpendek dari hari-hari itu kata-kata yang telah aku ucapkan.
Adapun jika suaraku menghilang di telinga-telinga kalian, dan cintaku menghilang dalam kenangan-kenangan kalian, maka pada saat itu aku kembali kepada kalian. Dengan hati aku bernyanyi, dan dengan kedua bibirku aku berbicara patuh pada jiwa.
Ya, aku kembali bersama tanda panjang, tanda waktu.
Aku pergi bersama angin, hei penduduk Orfulis, tapi aku tidak akan larut dalam dasar kehampaan.
Jadi, ketahuilah, sesungguhnya aku bagian dari kebisuan yang agung, karena itu aku akan menghilang.
_______________________
Anak sungai-sungai telah sampai ke laut, dan untuk kedua kalinya ibu yang agung itu memeluk anak-anaknya.
Selamat tinggal penduduk Orfulis.
Inilah sungai yang aku sadari muaranya.
Selamat tinggal kalian semua dan masa muda yang telah aku habiskan bersama kalian.
Tidak ada kecuali ketika semalam kita bertemu dalam mimpi.
Tetapi tidur kita telah berpaling, dan mimpi kita telah usai, dan tidak akan kembali sejak fajar terbit.
Jika kita dapat bertemu kembali, sekali lagi dalam kenangan senja, maka kita akan berbincang-bincang untuk kedua kalinya, kalian akan melagukan aku dalam sebuah nyanyian yang syahdu.
Jika tidak cukup, ketika itulah kita akan berjumpa kedua kalinya untuk uang, dan bersama-sama kita mengulurkan tangan kita kepada sang pemberi.
Jangan lupa aku akan kembali kepada kalian.
Tak tertinggal, kerinduanku akan mengumpulkan debu-debu dan buih untuk jasad yang lain.
_______________________
Dan akhirnya...
Buat semua "teman-temanku", #Kahlil Gibran dalam Miracle of Love "Dengan Hati Aku Bernyanyi" ini kusampaikan pesan penutup sebagai pembuka untuk semua janji pertemuan kita kelak.
"AKU PENGISI NOMOR SATU DI BUKU TAMU LOMBOK 2020!!!
Selasa, 03 Juli 2012
Dengan Hati Aku Bernyanyi
Diposting oleh Unknown di 14.55 0 komentar
Mereka Bilang Saya Macan Ompong dan Tak Bercakar
Yak, dua temen SMP gua akhir-akhir ini sering bilang kalo gua macan ompong yang ga punya cakar.
Gua ga ngegigit bagi mereka, kalo pun kena cakar gua yang kerasa cuma geli doang.
_______________________________
Gua ngegambarin kalo penyebutan "macan ompong tak bercakar" itu sama dengan penyebutan "pria melambai".
Buat ngeyakini itu gua sempet test recorder, hasilnya bener kayak yang di bilang mereka "Suara lu merdu dan rada-rada ngelambai kayak bencong!
Dari "macan ompong tak bercakar", gua dapet julukan "Lelaki Terpimpin".
Gua laki-laki terpimpin, belum jelas sih maksud sebenarnya.
Mereka (Mimi ama Tince.red) ngebahas istilah "Lelaki Terpimpin" lebih ke arah yang "negatif" menurut gua.
Logat merendahkan saat penyebutan "Lelaki terpimpin" itu rasa-rasanya kayak ngena banget di diri gua, yeah walaupun mungkin itu cuma bahan buat kita-kita bisa ketawa bareng.
_______________________________
Dari hari dipateni julukan itu gua belajar buat ga lagi berada dalam kondisi "macan ompong tak bercakar".
Gua belajar buat bikin suara gua terdenger lebih jantan dan sexy.
Dimulai dari langsung teriak-teriak sebelum mandi, nyanyi lagu rock sambil mandi, ngerokok kretek yang banyak, sampe gedein porsi minum minuman bersoda.
Sementara ini yang bisa gua liat baru sebatas uang jajan yang lebih cepet terkuras.
_______________________________
Sebenernya gua suka kalo emang mesti menjadi lelaki terpimpin, itu kalo gua ikut-ikutan mikir "negatif" kayak mereka.
Tapi menjadi lelaki yang memimpin gua rasa lebih asik daripada lelaki terpimpin.
Karena dasarnya lelaki adalah pemimpin, bukan terpimpin.
Diposting oleh Unknown di 14.25 0 komentar

