THOUSANDS OF FREE BLOGGER TEMPLATES

Halaman

Sabtu, 28 Januari 2012

Erotomania

Merasa dicintai seseorang padahal bertepuk sebelah tangan....

Nemuin kalimat ini pas lagi hunting buku di Gramedia, tertulis di bagian sampul belakang sebuah novel.
Rasa-rasanya kalimat itu pas banget buat gua, yeaahhh setelah hampir enam tahun selalu ngerasa Erotomania.

Tapi....tapi...dan tapi... gua ga selalu ngerasa kayak dicintai, tapi lebih ngerasa seseorang memperhatikan dari jauh. bukan orang tua yang pastinya.

Perasaan ini sama kayak kalo kita lagi ngerasa sakit, menderita.
Sindrom...
-----------

Erotomania, Sindrom ini umumnya para perempuan yang jadi pederita. tapi ga jarang para lelaki juga menjangkit sindrom ini.
Gua yang jadi salah satu penderita, ngerasa diperhatiin secara khusus oleh seseorang.

Bedanya, Objek yang dihayalin si penderita adalah sosok yang punya status sosial yang tinggi (artis, publik figur) dan yang gua hayalin cuma cewek biasa. cewek satu kampus yang bukan artis tapi tenar kayak artis, bukan juga seorang publik figur yang di elu-elukan banyak orang tapi jadi salah satu cewek yang selalu disorot banyak mata.
Kita sebut saja, Artis Kampus.
--------------------

si Artis Kampus ini kebetulan satu Fakultas ama gua, satu angkatan juga...

Awal kisah, pas ospek kampus dulu gua kesemsem ama si Artis Kampus ini.
Jadi dimulailah sebuah misi, misi menjadi "Pemuja Rahasia".

Jadi Pemuja Rahasia itu ga gampang lho, tiap malem selalu ngirim puisi, dan bikin sebuah puisi itu ga gampang juga. mesti banyak referensi dari novel atau pun dari mbah google.
Nah, gua punya keahlian dibidang ini. secara nalar gua bisa bikin bait-bait indah yang temen gua bilang punya potensi untuk diterbitin di majalah atau di ikut sertakan di lomba penulisan puisi.

Itu menurut temen gua, menurut gua sih puisi-puisi yang udah gua kirim ga ada bagusnya. buktinya si Artis kampus in sama sekali ga ngerespon balik. dan Fakta-fakta tentang "wanita suka dikirimi puisi" adalah tdak benar, atau si Artis kampus ini sama sekali ga suka puisi. semoga saja enggak.
++++++
Singkat cerita, gua yang udah nyembunyin status sebaga pemuja rahasia ketahuan.
Dibilang malu, tapi gua ngerasa ga malu. dibilang malu-maluin gua ga ngerasa juga, tapi bukan berati gua ga punya "kemaluan".
-------------
Akhirnya gua putusin ga lagi jadi pemuja rahasia.
Di hari-hari berikutnya setiap kali gua berpapasan ama si Artis kampus gua lebih banyak malingin wajah, bukan berati gua benci juga bukan berati gua mau ngejauhin, hanya saja ada "sesuatu" yang rasanya bikin ga nyaman kalo lagi ada si Artis kampus di deket gua.
Gua lebih suka memperhatikan dari kejauhan, meraba-raba jejak kaki si Artis kampus....
Asik aja bisa mandangi lantunan langkah kecil Artis kampus.
++++++++

Selang waktu berlalu, beberapa bulan kemudian...
Gua lupa hari apa itu, tapi gua ingat semua percakapan pendek gua ama si Artis kampus.

Di salah satu ruang kuliah, kira-kira tengah hari. gua duduk sendirian sambil maen game di hape.
si Artis kampus ngehampiri gua trus duduk disebelah gua;
Artis kampus : "Nedi, kamu pake baju tiga lapis yah?
Gua : "eeennnggg, iya... (gua gugup banget, ini percakapan pertama setelah gua ketahuan jadi pemuja rahasia dulu)
Percakapan pendek inilah yang jadi pemicu Erotomania.

Dari sejak hari itu sampe sekarang gua selalu ngerasa si Artis kampus ini memperhatikan gua dari kejauhan. padahal nyatanya enggak.
Bukan sekadar ke GeEran, hanya saja sejak hari itu gua nemuin bola mata yang indah, senyum yang bagi beberapa temen gua itu biasa dan bagi gua luar biasa.
Dan sejak saat itu juga gua selalu pengen tampil menarik, dua minggu sekali perawatan wajah ke salon. dari yang awalnya gua pengoleksi jerawat jadi ngerasa ga nyaman pas punya jerawat. dari yang ngerasa kulit hitam "itu laki" jadi kulit hitam "ga banget". rela-relain ga mau ikut temen satu angkatan maen bola di kampus.
-----------

Gua mulai jadi kayak detective, nyelidiki "Apa sih yang disukai nih Artis kampus?, "Cowok kayak apa sih yang di idam-idami ama si Artis kampus ini?...
Setelah diketahui ternyata si Artis kampus ini sukanya ama cowok yang rapi, kemudian...
Mulailah gua ngedandani diri ke salon, gua potong rambut setengah cepak. cepak tanggung, rambut-rambut gaya tentara tapi lebih keliatan berambut. kalo tentara itu kan cepak "banget".
Bisa dibilang rambut gua waktu itu ikut-ikutan rambutnya raffi ahmad tahun 2007.

Trus gaya berpakaian gua yang awalnya sembarangan jadi lebih rapi, pas banget ama rambut yang gua sisir klimis. tampilan udah kayak dosen, atau juga kayak pengusaha muda.
Celana katun dan kemeja yang gua pake "ngena" banget.

--------

Di kampus gua mondar-mandir di depan si Artis kampus, celingak-celinguk kayak orang oon...
++++++++
Ternyata semua sia-sia, si Artis kampus ga ada respon sedikit pun.
------------

Gua mikir, yang salah bukan dandanan gua tapi wajah gua.
Wajah gua emang bermasalah, ga ada gantengnya sedikit pun. jadi kalo pun celana ama baju udah harga milyaran kalo masih dengan wajah yang kayak gini rasanya ga mungkin si Artis kampus klepek-klepek didepan gua.

Gua putusin buat mundur, bisa nikmatin suara si Artis kampus dari kejauhan udah lebih dari cukup.
Bisa liat si Artis kampus dari kejauhan adalah anugrah...
Bisa nikmatin senyum si Artis kampus yang diberikan ke orang lain adalah keindahan....
Bisa ngejagain si Artis kampus dari sudut ruangan adalah sebuah kehormatan...
dan bisa menjadi Erotomania selama ini adalah sebuah kebodohan!!!


"Tak ada yang salah dengan burung gagak. Dibandingkan burung yang terkurung dalam sangkar, burung gagak jauh lebih baik. Bagiku, bisa menjadi seperti burung gagak sudah lebh dari cukup" (CZ)

Jumat, 20 Januari 2012

@galau

Malam ini sama kayak malam-malam sebelumnya, susah tdur. Insomnia, mungkin. atau gara-gara terlalu sering mikirin kamu, orang yang bilang saya #payah.

@galau ; Keadaan dimana orang menjadi murung secara mendadak, bisa dibilang mumet, banyak pikiran. atau keadaan dimana kita jadi sedih dan murung karena memikirkan sesuatu “Melancholis deh istilah kerennya.

Nah, kayaknya itu salah satu penyebab gua susah tidur.
atau juga karena terlalu sering minum kopi?

Ngomongi masalah @galau, sekarang tuh gua mikir "Orang yang tiap malem sebelum tidur selalu disebut-sebut namanya ini pernah ga sih mikirin gua. sekali aja, atau ga tiga seperempat detik deh.

Tapi kayaknya ga, gua kan bukan orang yang "pinter" (umumnya cewek tuh cuka ama cowok pinter.red). juga bukan orang yang masuk dalem kategori "pria tampan".

Katanya, "ga semua cewek suka cowok pinter dan tampan!!!
Buat cewek yang ngerasa kayak gitu gua ucapin terima kasih banyak, terima kasih karena telah menghargai cowok-cowok yang ga keren kayak saya.

Cewek kan maunya punya pacar yang lebih "baik" dari pacar temennya, dari pacar orang laen.

"baik" disini bisa dikategorikan dalam ;
1. pria tampan,
2. pinter,
3. kaya,
4. putih,
5. rapi,
6. baik hati dan tidak sombong,
7. rajin beribadah dan menabung,
8. perhatian,
9. setia,
10. dan bla...bla...bla...
--------------

@galau, gua galau nih (biar ga dibilang kuper, ga galau ga gaul. lagi-lagi KATANYA)
---------------
@galau udah jadi hobi ; ya elllllaaah...
Di fb, twitter, dan akun-akun laen kata-kata galau sering kita denger.
Dan umumnya semua tentang masalah "percintaan", habis cuma galau masalah percintaan doang yang sering ngejangkit kita-kita.

Gua pernah denger, "Kalo lingkungan sekitar galau, kita bakalan kut-ikutan galau.
Padahal sejatinya kita ga ngerasa apa-apa. lingkungan yang bikin kita #galau.

Galau itu jadi sugesti, sama kayak kita lagi sakit trus harus ke rumah sakit buat berobat. pas dirumah sakit Dokter bilang inilah, itulah trus ngasih resep. beberapa waktu kemudian kita sembuh dari sakit.
Padahal kenyataan sebenarnya, sugesti kita untuk sembuh dari sakit dengan pergi kerumah sakit.

Contoh : ada orang yang cuma dipijet doang  bsa sembuh dari sakit. sakit perut, sakit gigi, sakit kepala, sakit-sakitan ga jelas trus sembuh. itu karena sugesti yang diberikan ke dia sendiri. bisa dibilang ini IMAN

Sama tuh kayak @galau, awalnya kita ga ada masalah. tapi setelah yang sebelah kiri bilang, "gua galau nih, pacar gua tambah lama tambah posesif. trus yang sebelah kanan bilang, "gua galau nih, pacar gua sekarang ga perhatian kayak dulu lagi. jangan-jangan udah selingkuh, gimana dong?
Nah, secara ga langsung mereka memberikan sugesti ke kita. "hmmm pacar gua lagi ngapain yah? tumben belum nelpon, atau tumben ga sms...

-----------
@galau ada obatnya:

1. Mendekatkan diri kepada yang Maha kuasa, banyak berdoa agar kita terlepas dari kegalauan tersebut. Memohon diberikan jalan dan petunjuk terbaik terhadap penyelesaian permasalahan yang sedang dihadapi.
2. Segera menyelesaikan permasalahan atau penyebab galau itu sendiri, harus diingat bahwa menyimpan masalah dan tidak segera menyelesaikannya bagai menyimpan bom waktu yang sewaktu-waktu pasti akan meledak.

3. Lepaskan dan sampaikan hasrat atau uneg-uneg penyebab galau tersebut, jika sobat memendam rasa terhadap seseorang akan lebih baik disampaikan kepada orang tersebut. Walaupun hasilnya terkadang tidak seperti yang diharapkan namun akan lebih meringankan beban perasaan sobat.

4. Cobalah memanajemen waktu sobat, jadwalkan waktu khusus dalam sepekan untuk refreshing atau berolahraga. Lakukan kegiatan kegiatan atau rutinitas yang tidak biasa, akan membabantu fikiran sobat menjadi lebih fresh.

5. Mendengarkan lagu-lagu atau musik yang gembira akan menghantarkan sobat menjadi lebih segar.

6. Mencari orang yang dapat dipercaya untuk bercerita atau curhat terhadap permasalahan yang sobat hadapi, walaupun tidak didapat solusi yang terbaik tapi paling tidak ada referensi masukan untuk memecahkan masalah tersebut.

7. Selalu berfikir positif (Positif Thinking) dalam menjalani kehidupan, buang prasangka buruk kepada sobat dan rekan.

8. Pergi kepantai, kegunung dan teriak sekeras-kerasnya sampai merasa fresh dan segar. Buang semua kegalauan disana.

Ini nih, contoh temen gua yang galau. kita-kita pada asik maen di pantai eh dia ngelamun ga jelas.





Selasa, 17 Januari 2012

Ai Lope Yu...

Oke, kali ini kita ngebahas masalah kumis.
Gara-garanya ada yang sms ke gua katanya kumis ama jenggot gua ga asik buat diliat.
-----------
Sejarahnya dimulai dari Layar Remaja di salah satu stasiun televisi swasta, judulnya "Inikah Rasanya...
Yang maen di film itu :

Gilbert Marciano


Allisa Soebandono

Nadia Vega
 
 Nia Ramadhani
  
Beradu akting sama tiga cewek cantik. dengan kumis tipis dan gaya cool Jason (Gilbert Marciano) jadi bahan rebutan Allisa dan Nia. Vega sendiri berperan sebagai cewek tomboi.
Nah si Jason ini waktu itu (gua kelas 3 sma) jadi icon banget di sekolahan, sampe-sampe salah satu temen gua  bikin kumis sgala. gua yang pengen ikut-ikutan tren kumis kayak temen satu asrama itu rela berburu Katel, laba-laba tanah yang katanya bisa menghasilkan minyak penumbuh "bulu".

Setelah diterapkan ternyata benar, hari berganti hari, minggu berganti minggu dan akhirnya kumis gua tumbuh juga. gua seneng banget waktu itu, apalagi salah satu temen deket gua bilang kalo kumis yang gua punya Pas aja kalo diliat.

Ampe sekarang gua masih kumisan.
Eh ga tau kenapa ada yang ngirim sms dan bilang kalo gua ga cocok kumisan, apalagi jenggotan.

"Maaf yah, Pro dan Kontra itu biasa terjadi. kalo lu ga suka ga papa.
"Lu ga mau temenan ama gua juga ga papa.
"Yang penting gua enjoy dengan kumis ini.
"Ai lope Yu Kumisku....

Senin, 16 Januari 2012

REHZA


“Kemaren tuh aku sakit, sekarang aja belum pulih bener. Mana Handphone di simpen sama Papa lagi”. Telepon kembali diputuskan Rehza.
Hardi udah terlanjur nuduh yang bukan-bukan. Hardi merasa salah.
            “Apa yang mesti aku lakukan?” Pikirnya.
“Aku harus ngomong apa enggak?” Hardi Bingung memikirkan masalah yang sedang dihadapinya, Bingung akan ulah yang ia ciptakan tanpa pikir panjang itu.
Ia hanya duduk sendirian dan terus hanyut dalam kenangan indah saat-saat kebersamaan dulu.

***

“Halo…” Sapa seorang wanita di balik telepon genggam itu
“Ehm… nih Rehza ya!?” Tanya Hardi singkat.
“Iya. Siapa nih?” Lembut ia balik menanyai Hardi.
“Nih Hardi, Hardinata. Aku temennya Febi, itu lho anak Ekonomi
angkatan 2006”. Dengan jelas Hardi menerangkan.
            “Febi? Yang mana ya? Aku enggak kenal tuh!”.
            “Kamu gak kenal??? “Tanya Hardi heran.
            “Berati aku udah di tipu Febi nih”. Lirih Hardi di dalam hati. “Trus gimana nih? Apa aku lanjutin aja!” batin Hardi
            “Duh… Tuh anak emang jahil banget. Maaf ya. Aku udah ganggu kamu”.
Terangnya setengah memohon ke seorang wanita di balik telepon itu.
            “Gak apa kok, lagian kamu gak lagi ganggu aku. Salam kenal…” suara di balik telepon itu lembut menyentuh hati Hardi..
            “Ehm… Tapi tetep aja aku malu. Salam kenal” Jawab Hardi yang masih gundah akan ketidakberdayaan di matanya.
            “Makasih ya. Eh… laen kali aku telpon lagi”
            “Iya. Sama-sama”
            “Bye…” diakhirinya semua dengan menahan rasa malu.

***

Tiga Bulan berlalu. Hardi dan Rehza semakin akrab. Mereka sering jalan bareng. Makan siang di kampus bareng. Bahkan kadang kala mereka saling mengejek, sekedar untaian canda untuk menyenangkan hati. Pernah dulu waktu mereka lagi jalan, mereka berpapasan dengan seorang pengemis yang sangat memprihatinkan. Badan yang bungkuk dengan tongkat kayu sebagai penopangnya. Pakaian yang entah sudah berapa lama tak menyenggol sebilas air itu.

Dengan gaya sok. Seperti biasa Hardi yang memulai pertikaian.
            “Za… Rehza” sapa Hardi akrab.
            “Ya..” Jawaban singkat yang lumrah didengarnya sebagai tanda persetujuan pertikaian ini.
            “Kamu kok gitu?” tanya Hardi dalam.”Masa ia, kamu gak mau ngakui kalo yang yang barusan tadi itu Papa kandung kamu!” Hardi setengah menunjuk kearah Pengemis yang belum cukup jauh dibelakangnya.
            “Papa kandung?” kaget Rehza menjawabnya, “Bukannya itu Papa kamu yang kamu tinggalkan setelah Ibumu menikah lagi dengan Duda kaya dari Timur indonesia itu!” tanpa mau mengalah Rehza meladeni pertikaian yang aku buat. Tak mau kalah, Rehza menunjuk kearah yang sama.
            “Papa aku?” giliran Hardi yang dikejutan dengan tuduhan Rehza. “Tuh kan… dasar anak durhaka. Papa sendiri gak mau mengakui, malahan temen sendiri yang dituduh!”
            “Kamu…” jawabnya sambil jemarinya mengacung. Menunjuk, menyalahkan.
            “Eit… yang marah berati dia kalah. Dan sanksi tetep belaku, yang kalah harus Bayar Makan di kantin Kampus” sergah Hardi yang mengejutkannya…
            “Dasar kamu Har. Kok bisa aku selalu kalah? Padahal gak ada sedikitpun yang menyangkut di diriku tentang semua yang pernah kita bahas” Begitulah Rehza mencoba menepis.
            “Itu karena kamu yang mudah emosi. Kalo bisa kurangi emosi yang ada di dirimu itu. Bisa-bisa nanti kamu bakal merusak persahabatan kita” jelas Hardi meminta.
            “Iya-iya. Pasti aku kurangi, tapi butuh waktu untuk itu semua”

Dicobanya lagi untuk menghubungi Rehza, tapi tak pernah ada jawaban. Rehza menghilang seiring kepulangannya ke rumah. Libur panjang mengundang Rehza kembali ke rumah. Menemui ayah dan ibunya serta adik-adiknya. Sekadar menimpali rasa kangennya.
            Dua hari sebelum kepulangan Rehza, Hardi masih sempat bertatap muka di kantin. Seperti biasanya pula mereka ngobrol panjang lebar. Tawa dan getar-getar cinta menguntit mereka berdua.
            “Ehm… kalo gak ada halangan besok lusa aku mau mudik” Setelah lama diam Rehza mulai mendengungkan suara sambil terus melanjutkan makannya.
            “Mudik?” Hardi sedikit kaget.
            “Iya. Aku udah satu semester gak mudik. Aku kangen rumah. Ayah, ibu, adik-adik dan segarnya air rumahku.
            “Tepatnya kapan?” Tanya Hardi layaknya Wartawan yang mencari info.
            “Besok lusa. Jam sepuluh malem. Naik kereta malem.” Padat dan jelas,
Rehza mengulangi. Rehza tidak mau terlalu membahas masalah kepulangannya. Sedangkan Hardi hanya diam. Dia bingung. Pikirannya kalau, Dia takut Rehza tidak kembali ke kampus lagi. Dia takut kehilangan Rehza. Seorang teman yang suatu saat dia yakini akan menjadi kekasih hatinya itu.
Lama mereka terdiam, merekapun telah selesai makan siang, pergi menghadap kasir dan membayar bon makan siangnya.
            Mereka masih saja diam sampai di depan Gedung Dekanat. Dimana Pohon-pohon rimbun didepannya. Bangku-bangku yang banyak di duduki mahasiswa.
Mahasiswa menyebutnya “DPR Dekanat”, Alias “Dibawah Pohon Rindang Dekanat”. Ya Begitulah . Terlihat ada bangku yang masih kosong di pinggiran perempatan terminal kampus.
            “Duduk disana yuk” ajak Hardi. Sambil ditunjuknya sebuah bangku kosong itu.
Rehza hanya menganggukan kepala dan berjalan seiring Hardi menuju bangku yang dimaksud.
            “Kok kamu diem terus? Kamu gak sakit dadakan kan?” Tanya Hardi kuatir.
            “Gak kok. Aku Cuma lagi pengen diem aja.” Cuek Rehza menjawab.
            “Eeng… ntar mau gak dianter mudik? Kalo mau sih aku bisa ikut nganter ampe ke rumah kamu!”
            “Boleh sih. Tapi dirumah aku cewek semua. Yang cowok ada tapi masih kecil.”
            “Boleh? Tapi aku tidur dimana?” Hardi balik lagi menanyai. Sebenarnya Hardi Cuma bercanda. Dia hanya mau memulai pembicaraan. Biasanya Rehza yang memulai.
            “Di kolong jembatan!” Rehza mulai mencairkan suasana. Dengan lelucon seperti biasanya.
            “Kolong jembatan? Ah. kamu kejam. Masa iya sama temen sendiri kayak gitu”
            “Ya abis Ayah aku gak mau ada cowok yang maen ke rumah” dengan mimik santai Rehza menjelaskan.
            “Apalagi orang yang gak Dia kenal. Ya kayak kamu” Rehza menjelaskan.
            “Oh gitu. Ya di tanya dulu donk, kali aja aku diterima bertamu ke rumahmu”. Hardi menggoda Rehza. Dan seterusnya. Mereka berdua kembali Harmony seperti biasanya.

***

“Ternyata selama ini aku salah pilih teman, Salah…
”Aku terlalu terbuka, Salah…
”Aku telah mempercayaimu, Salah…
”Kau mau mendengarkan ceritaku

”Salah…
”Salah…
”Kau membebani pikiranku,
”Kau membuatku bimbang
,
”Kau telah mempermainkan permainan yang salah
”Aku membencimu. Sebenci nyamuk-nyamuk malam di kamarku
”Aku ingin memutuskan ikatan persahabatan ini.
Begitulah pesan singkat yang dikirim Hardi setelah satu bulan sudah Rehza tak pernah bisa dihubunginya. Yang melambungkan keputusasaannya. Hardi terlalu lama menyadari ini. Baginya Rehza bukan teman yang selama ini ia kenal. Semenjak kepulangan Rehza ke rumah. Rehza tak pernah mengangkat telepon dari Hardi. Bahkan semua pesan singkat yang dikirim Hardi setiap harinya tak pernah ada balasan. Hardi lelah. Letih. Habis sudah tenaganya. Terdampar di gurun sahara. Terpampang wajah semu di hiliran sungai yang dangkal. Terhanyut senyap-senyap malam. Terbungkus dinginnya uap es dari laut utara yang menyapu semenanjung Zeebruggae di perbatasan belanda.
Sungguh tak ada kata yang yang dapat disandingkan dengan keputusasaan Hardi akan asa yang dulu di pujanya.
            Hardi terdiam dalam lamunannya. “Terlalu indah untuk dilupakan.” Ujarnya singkat.
Tak lama kemudian pesan balasan pun diterima Hardi. Ia tak menduga sama sekali. Kalau Rehza membalasnya. Berdebar hati hardi setelah ia tahu apa yang telah ia baca:

            "Tipes aku kambuh
            ”Satu bulan sudah aku di rumah sakit
            ”Aku terbaring di tempat yang dulu menyudutkan diriku
            ”Aku benci tempat itu, tapi aku harus berada disitu!"

Tak berlangsung lama. Kesekian kali jantung Hardi berdetak kencang. Handphone hardi berdering. “Rehza memanggil” Ciut nyali Hardi. Apa yang mesti ia lakukan. Apa yang mesti ia katakan.

            “Kamu
kok gitu? Suara di balik telepon langsung membubuhkan pertanyaan ke Hardi. Hardi hanya diam. Hardi tak tahu apa yang harus ia katakan.
            “Hardi. Kok kamu diem? Suara itu lagi yang muncul.
            “Mana mentalmu? Suara itu memaksa Hardi bicara. Menyudutkannya.
            “Eeng. Za. Kamu sakit ?” Hardi balik menanyai Rehza.
            “Enggak. Aku enggak sakit….” Suara itu terputus. Hardi bingung menghadapinya. Lama suara itu baru muncul kembali.
            “Aku enggak sakit. Aku Cuma terbaring di rumah sakit” jelas Rehza. Isak tangisnya mengalir di telinga Hardi.
Terasa pilu.
Hardi hanya diam. Dia tau, kalau selama ini dia salah. Dia telah berburuk sangka. Iba hatinya. Tersayat kalbunya.
            “Za. Aku..” belum sempat Hardi bicara, telepon telah diputuskan oleh Rehza.

                                                            ***




Kemerunting di musim semi


Kemerunting di musim semi…
Bintang timur enggan menampakan wujudnya lagi…
Kau hadir tak cukup menggantikan cahayanya…

Semilir angin menggoyahkan pertahanan Bunga Abadi di pegunungan selatan…
Kumbang jantan nan besar hilir mudik di pematang sawah…
Dialah sebuah kecampakan di guratan-guratan topeng yang hampa menghampiriku…

Diulang-ulangnya membaca sajak itu. Ribuan makna tak kunjung ia temukan. Kilatan Rehza menghantuinya. Apa yang ia takutkan terjadi. Rehza tak akan kembali kepadanya.
Setelah Rehza memutuskan telepon, Hardi menelpon balik Rehza. Sedikit yang terucap getir di bibir Rehza.
            “Kemaren tuh aku sakit, sekarang aja belum pulih bener. Mana Handphone di simpen sama Papa lagi”
Setelah itu telepon kembali diputuskan Rehza. Hardi bingung.

Dengan hati gamang Hardi menutup telepon dan membaringkan badannya diranjang tempat tidurnya sambil melihat langit-langit kamar.
Hardi menyesali tindakannya.
            “Tidak semua yang aku pikirkan ternyata benar adanya” Batin Hardi bicara padanya.
            “Memilih diam dan bersabar adalah jalan terbaik untuk sebuah persahabatan dan cinta.
Walaupun terlalu sakit untuk itu”.

***

'Ja...
Gua seneng pernah kenal lu...

Sabtu, 14 Januari 2012

Ngopi Yuk...

Sejarah; sejenis minuman yang berasal dari proses pengolahan dan ekstraksi biji tanaman kopi
Kata kopi sendiri berasal dari bahasa Arab qahwah yang berarti kekuatan, karena pada awalnya kopi digunakan sebagai makanan berenergi tinggi. Kata qahwah kembali mengalami perubahan menjadi kahveh yang berasal dari bahasa Turki dan kemudian berubah lagi menjadi koffie dalam bahasa Belanda.[rujukan?] Penggunaan kata koffie segera diserap ke dalam bahasa Indonesia menjadi kata kopi yang dikenal saat ini.
Secara umum, terdapat dua jenis biji kopi, yaitu arabika (kualitas terbaik) dan robusta.

Sebagai penikmat kopi, gua lebih suka kopi "asli", bukan kopi bungkusan yang tinggal di kasih air panas udah langsung bisa diminum. ga ada seninya.
Kopi lebih asik kalo diminum dalam keadaan panas, lebih asik lagi kalo kondisi badan atau lingkungan lagi dingin.

Ada yang bilang gini, "Kopi itu ga baek buat kesehatan!!!

"Yak, tapi kalo diminum berlebihan.
"Ngopi itu bisa bikin pinter lho, sayangnya gua ga ngerasa pinter.

Berdasarkan penelitian, Kopi bisa ngehindari kita dari penyakit Diabetes dan Jantung. Kopi juga bisa bikin tubuh cewek Langsing. tapi kalo Kopi + Susu malah bisa bikin jadi gemuk.
----------
Di Indonesia (udah kayak PENDAHULUAN di skripsi.red), Kopi punya banyak ragam. Ada kopi Aceh, kopi Toraja, Kopi Bali, Kopi Lampung dll. semuanya masuk ke dalem kategori Kopi Robusta.
Dari semua Kopi, Kopi yang paling gua idemi yaitu Kopi Aceh. kalo di aceh dibilang Kopi Tarik.
Seni ngeraciknya pun unik ;

Semakin panjang "tarikan" maka semakin nkmat, KATANYA...
Gua belon percaya tuh kalo ga nyobain langsung.

Gua denger-denger Kopi Aceh ga bisa di "keluarin" dari daerah sono karena ada kandungan GANJA di dalemnya.jadi kalo mau nyobain mesti dateng langsung ke Aceh.
------

Kopi mengandung Kafein yang bisa bikin ngantuk ilang, kita berasa berenergi. Pas buat begadang ngerjain Skripsi bagi mahasiswa senior, buat jaga pos ronda, buat nonton bola lebih oke lagi.
-----

So, Ngopi Yuk....

Kamis, 12 Januari 2012

Saya Bukan Bola!!!

Kemarin kali kedua gua konsul ama dosen pembimbing setelah satu tahun lebih skripsi terbengkalai.
Konsultasi pertama, gua di "skak" ama pembimbing. dia bilang, "Skripsi kamu udah lama ga ada kabarnya. ngulang lagi aja kalo gitu.
Gua cuma diem dan langsung nyerahin Bab IV yang udah kelar, trus bilang pamit ke pembimbing.
Padahal banyak yang pengen gua tanyain ke pembimbing, tapi dengan sambutan yang dingin itu rasa-rasanya gua mau lari aja dari kampus. ngelupain semua hal tentang kampus, ngelupain semua utang-piutang, ngelupain semuanya.

Kalo aja gua masih kayak dulu, yang tiap dapet masalah langsung ngehindar mungkin sekarang gua udah ada di antah berantah. berkelana, gabung ama anak Punk, mungkin.
Tapi sekarang gua orang yang suka nyari masalah, ga akan ngehindarin masalah lagi, ga akan mundur dari laga.
Gertakan pembimbing itu ga serius, gua kenal Dosen Pembimbing ini lebih dari mahasiswa lainnya. gua ga takut, "skak" dari pembimbing bukan "skak matt". masih bisa di blok dengan bidak biasa.

dan di konsul yang kedua, yaitu kemaren. Dosen pembimbing masih dengan ekpresi wajah yang dingin.
"Mana makalah seminar hasil kamu? yang kemaren kamu kasih cuma Bab IV doang. saya belum ngoreksinya.

Gua kira di konsul yang kedua ini Bab IV yang kemaren udah di koreksi trus disuruh bikin makalah, ternyata...
"Ya pak, saya akan bikin makalah secepatnya.
"Tapi gimana dengan pembimbing dua saya Pak? mesti diganti atau...?

Masih dengan ekpresi yang sama, bahkan kali ini tanpa melihat gua.
"Sana tanya sama ketua program studi!!!

Gua langsung buru-buru nanyain ke ketua program studi, "Maaf Pak, Pembimbing dua saya lagi kuliah di Jokja....
Belum selesai gua jelasin, Ketua Prodi udah ngejawab dengan sedikit ngelirik gua

"Itu mesti diganti, Nedi. nanti tinggal minta surat persetujuan dari saya. emang mau diganti siapa?

"Ya pak. Rencananya Ibu "E". Beliau nawarin buat gantiin pembimbing dua. boleh ga pak?

"Yah tanyain ke pembimbing satu kamu dong!!!

Gua cuma diam trus langsung nanyain ke Pembimbing satu.
"Pak, Ibu "E" nawarin buat gantiin Ibu "S". gimana?

"Yah udah, tanya lagi Ibu "E"..!!!

dan Gua cuma senyum trus pamitan ke pembimbing.
Dalem hati gua bilang, "Maaf Pak, Saya bukan bola. tolong jangan di oper-oper...

Selasa, 10 Januari 2012

Gua Rumput kecil

Temen gua bilang gini, "Kita berdiri sejajar awan.



Di lain waktu temen gua bilang gini, "Kemana kita?
dan secara serentak jawaban yang keluar, "Bersenang-senang....


Tapi itu "dulu". Kini kita udah jalan sendiri-sendiri...
dan itu menyakitkan buat gua.

"Teman, sekarang gua udah kayak rumput kecil yang tumbuh di padang pasir. Sendiri menahan sengatan matahari, sendiri melawan badai pasir.
"Kalo boleh milih, lebih baik ga kenal kalian daripada mengenal dan berakhir kayak gini.

Jumat, 06 Januari 2012

Seharusnya bersama kalian malam ini, Teman Part.2

Teman, Hujan turun lagi saat kulalui jalan kenangan kita.
Jalan dimana kita memacu kuda besi bersama, saling lempar senyum bahkan gelak tawa.
Pilu saat kuingat kalian....

Teman, Masih ingatkah kalian tentang mimpi kita ?
Mimpi tentang masa depan, tentang matahari terbenam dan tentang gemuruh ombak...

Teman, Masih ingatkah kalian tawa yang kita buat malam itu?
Kita bercerita tentang bunga ilalang dan kodok hijau...

Teman, Aku benci kalian yang meninggalkanku sendiri.
Disini setiap malam menjelang tidur kucari bayang-bayang kalian...

Teman, Dimana kalian?
Sedang apa kalian?

Aku merindukanmu, Teman...