THOUSANDS OF FREE BLOGGER TEMPLATES

Halaman

Senin, 16 Januari 2012

REHZA


“Kemaren tuh aku sakit, sekarang aja belum pulih bener. Mana Handphone di simpen sama Papa lagi”. Telepon kembali diputuskan Rehza.
Hardi udah terlanjur nuduh yang bukan-bukan. Hardi merasa salah.
            “Apa yang mesti aku lakukan?” Pikirnya.
“Aku harus ngomong apa enggak?” Hardi Bingung memikirkan masalah yang sedang dihadapinya, Bingung akan ulah yang ia ciptakan tanpa pikir panjang itu.
Ia hanya duduk sendirian dan terus hanyut dalam kenangan indah saat-saat kebersamaan dulu.

***

“Halo…” Sapa seorang wanita di balik telepon genggam itu
“Ehm… nih Rehza ya!?” Tanya Hardi singkat.
“Iya. Siapa nih?” Lembut ia balik menanyai Hardi.
“Nih Hardi, Hardinata. Aku temennya Febi, itu lho anak Ekonomi
angkatan 2006”. Dengan jelas Hardi menerangkan.
            “Febi? Yang mana ya? Aku enggak kenal tuh!”.
            “Kamu gak kenal??? “Tanya Hardi heran.
            “Berati aku udah di tipu Febi nih”. Lirih Hardi di dalam hati. “Trus gimana nih? Apa aku lanjutin aja!” batin Hardi
            “Duh… Tuh anak emang jahil banget. Maaf ya. Aku udah ganggu kamu”.
Terangnya setengah memohon ke seorang wanita di balik telepon itu.
            “Gak apa kok, lagian kamu gak lagi ganggu aku. Salam kenal…” suara di balik telepon itu lembut menyentuh hati Hardi..
            “Ehm… Tapi tetep aja aku malu. Salam kenal” Jawab Hardi yang masih gundah akan ketidakberdayaan di matanya.
            “Makasih ya. Eh… laen kali aku telpon lagi”
            “Iya. Sama-sama”
            “Bye…” diakhirinya semua dengan menahan rasa malu.

***

Tiga Bulan berlalu. Hardi dan Rehza semakin akrab. Mereka sering jalan bareng. Makan siang di kampus bareng. Bahkan kadang kala mereka saling mengejek, sekedar untaian canda untuk menyenangkan hati. Pernah dulu waktu mereka lagi jalan, mereka berpapasan dengan seorang pengemis yang sangat memprihatinkan. Badan yang bungkuk dengan tongkat kayu sebagai penopangnya. Pakaian yang entah sudah berapa lama tak menyenggol sebilas air itu.

Dengan gaya sok. Seperti biasa Hardi yang memulai pertikaian.
            “Za… Rehza” sapa Hardi akrab.
            “Ya..” Jawaban singkat yang lumrah didengarnya sebagai tanda persetujuan pertikaian ini.
            “Kamu kok gitu?” tanya Hardi dalam.”Masa ia, kamu gak mau ngakui kalo yang yang barusan tadi itu Papa kandung kamu!” Hardi setengah menunjuk kearah Pengemis yang belum cukup jauh dibelakangnya.
            “Papa kandung?” kaget Rehza menjawabnya, “Bukannya itu Papa kamu yang kamu tinggalkan setelah Ibumu menikah lagi dengan Duda kaya dari Timur indonesia itu!” tanpa mau mengalah Rehza meladeni pertikaian yang aku buat. Tak mau kalah, Rehza menunjuk kearah yang sama.
            “Papa aku?” giliran Hardi yang dikejutan dengan tuduhan Rehza. “Tuh kan… dasar anak durhaka. Papa sendiri gak mau mengakui, malahan temen sendiri yang dituduh!”
            “Kamu…” jawabnya sambil jemarinya mengacung. Menunjuk, menyalahkan.
            “Eit… yang marah berati dia kalah. Dan sanksi tetep belaku, yang kalah harus Bayar Makan di kantin Kampus” sergah Hardi yang mengejutkannya…
            “Dasar kamu Har. Kok bisa aku selalu kalah? Padahal gak ada sedikitpun yang menyangkut di diriku tentang semua yang pernah kita bahas” Begitulah Rehza mencoba menepis.
            “Itu karena kamu yang mudah emosi. Kalo bisa kurangi emosi yang ada di dirimu itu. Bisa-bisa nanti kamu bakal merusak persahabatan kita” jelas Hardi meminta.
            “Iya-iya. Pasti aku kurangi, tapi butuh waktu untuk itu semua”

Dicobanya lagi untuk menghubungi Rehza, tapi tak pernah ada jawaban. Rehza menghilang seiring kepulangannya ke rumah. Libur panjang mengundang Rehza kembali ke rumah. Menemui ayah dan ibunya serta adik-adiknya. Sekadar menimpali rasa kangennya.
            Dua hari sebelum kepulangan Rehza, Hardi masih sempat bertatap muka di kantin. Seperti biasanya pula mereka ngobrol panjang lebar. Tawa dan getar-getar cinta menguntit mereka berdua.
            “Ehm… kalo gak ada halangan besok lusa aku mau mudik” Setelah lama diam Rehza mulai mendengungkan suara sambil terus melanjutkan makannya.
            “Mudik?” Hardi sedikit kaget.
            “Iya. Aku udah satu semester gak mudik. Aku kangen rumah. Ayah, ibu, adik-adik dan segarnya air rumahku.
            “Tepatnya kapan?” Tanya Hardi layaknya Wartawan yang mencari info.
            “Besok lusa. Jam sepuluh malem. Naik kereta malem.” Padat dan jelas,
Rehza mengulangi. Rehza tidak mau terlalu membahas masalah kepulangannya. Sedangkan Hardi hanya diam. Dia bingung. Pikirannya kalau, Dia takut Rehza tidak kembali ke kampus lagi. Dia takut kehilangan Rehza. Seorang teman yang suatu saat dia yakini akan menjadi kekasih hatinya itu.
Lama mereka terdiam, merekapun telah selesai makan siang, pergi menghadap kasir dan membayar bon makan siangnya.
            Mereka masih saja diam sampai di depan Gedung Dekanat. Dimana Pohon-pohon rimbun didepannya. Bangku-bangku yang banyak di duduki mahasiswa.
Mahasiswa menyebutnya “DPR Dekanat”, Alias “Dibawah Pohon Rindang Dekanat”. Ya Begitulah . Terlihat ada bangku yang masih kosong di pinggiran perempatan terminal kampus.
            “Duduk disana yuk” ajak Hardi. Sambil ditunjuknya sebuah bangku kosong itu.
Rehza hanya menganggukan kepala dan berjalan seiring Hardi menuju bangku yang dimaksud.
            “Kok kamu diem terus? Kamu gak sakit dadakan kan?” Tanya Hardi kuatir.
            “Gak kok. Aku Cuma lagi pengen diem aja.” Cuek Rehza menjawab.
            “Eeng… ntar mau gak dianter mudik? Kalo mau sih aku bisa ikut nganter ampe ke rumah kamu!”
            “Boleh sih. Tapi dirumah aku cewek semua. Yang cowok ada tapi masih kecil.”
            “Boleh? Tapi aku tidur dimana?” Hardi balik lagi menanyai. Sebenarnya Hardi Cuma bercanda. Dia hanya mau memulai pembicaraan. Biasanya Rehza yang memulai.
            “Di kolong jembatan!” Rehza mulai mencairkan suasana. Dengan lelucon seperti biasanya.
            “Kolong jembatan? Ah. kamu kejam. Masa iya sama temen sendiri kayak gitu”
            “Ya abis Ayah aku gak mau ada cowok yang maen ke rumah” dengan mimik santai Rehza menjelaskan.
            “Apalagi orang yang gak Dia kenal. Ya kayak kamu” Rehza menjelaskan.
            “Oh gitu. Ya di tanya dulu donk, kali aja aku diterima bertamu ke rumahmu”. Hardi menggoda Rehza. Dan seterusnya. Mereka berdua kembali Harmony seperti biasanya.

***

“Ternyata selama ini aku salah pilih teman, Salah…
”Aku terlalu terbuka, Salah…
”Aku telah mempercayaimu, Salah…
”Kau mau mendengarkan ceritaku

”Salah…
”Salah…
”Kau membebani pikiranku,
”Kau membuatku bimbang
,
”Kau telah mempermainkan permainan yang salah
”Aku membencimu. Sebenci nyamuk-nyamuk malam di kamarku
”Aku ingin memutuskan ikatan persahabatan ini.
Begitulah pesan singkat yang dikirim Hardi setelah satu bulan sudah Rehza tak pernah bisa dihubunginya. Yang melambungkan keputusasaannya. Hardi terlalu lama menyadari ini. Baginya Rehza bukan teman yang selama ini ia kenal. Semenjak kepulangan Rehza ke rumah. Rehza tak pernah mengangkat telepon dari Hardi. Bahkan semua pesan singkat yang dikirim Hardi setiap harinya tak pernah ada balasan. Hardi lelah. Letih. Habis sudah tenaganya. Terdampar di gurun sahara. Terpampang wajah semu di hiliran sungai yang dangkal. Terhanyut senyap-senyap malam. Terbungkus dinginnya uap es dari laut utara yang menyapu semenanjung Zeebruggae di perbatasan belanda.
Sungguh tak ada kata yang yang dapat disandingkan dengan keputusasaan Hardi akan asa yang dulu di pujanya.
            Hardi terdiam dalam lamunannya. “Terlalu indah untuk dilupakan.” Ujarnya singkat.
Tak lama kemudian pesan balasan pun diterima Hardi. Ia tak menduga sama sekali. Kalau Rehza membalasnya. Berdebar hati hardi setelah ia tahu apa yang telah ia baca:

            "Tipes aku kambuh
            ”Satu bulan sudah aku di rumah sakit
            ”Aku terbaring di tempat yang dulu menyudutkan diriku
            ”Aku benci tempat itu, tapi aku harus berada disitu!"

Tak berlangsung lama. Kesekian kali jantung Hardi berdetak kencang. Handphone hardi berdering. “Rehza memanggil” Ciut nyali Hardi. Apa yang mesti ia lakukan. Apa yang mesti ia katakan.

            “Kamu
kok gitu? Suara di balik telepon langsung membubuhkan pertanyaan ke Hardi. Hardi hanya diam. Hardi tak tahu apa yang harus ia katakan.
            “Hardi. Kok kamu diem? Suara itu lagi yang muncul.
            “Mana mentalmu? Suara itu memaksa Hardi bicara. Menyudutkannya.
            “Eeng. Za. Kamu sakit ?” Hardi balik menanyai Rehza.
            “Enggak. Aku enggak sakit….” Suara itu terputus. Hardi bingung menghadapinya. Lama suara itu baru muncul kembali.
            “Aku enggak sakit. Aku Cuma terbaring di rumah sakit” jelas Rehza. Isak tangisnya mengalir di telinga Hardi.
Terasa pilu.
Hardi hanya diam. Dia tau, kalau selama ini dia salah. Dia telah berburuk sangka. Iba hatinya. Tersayat kalbunya.
            “Za. Aku..” belum sempat Hardi bicara, telepon telah diputuskan oleh Rehza.

                                                            ***




Kemerunting di musim semi


Kemerunting di musim semi…
Bintang timur enggan menampakan wujudnya lagi…
Kau hadir tak cukup menggantikan cahayanya…

Semilir angin menggoyahkan pertahanan Bunga Abadi di pegunungan selatan…
Kumbang jantan nan besar hilir mudik di pematang sawah…
Dialah sebuah kecampakan di guratan-guratan topeng yang hampa menghampiriku…

Diulang-ulangnya membaca sajak itu. Ribuan makna tak kunjung ia temukan. Kilatan Rehza menghantuinya. Apa yang ia takutkan terjadi. Rehza tak akan kembali kepadanya.
Setelah Rehza memutuskan telepon, Hardi menelpon balik Rehza. Sedikit yang terucap getir di bibir Rehza.
            “Kemaren tuh aku sakit, sekarang aja belum pulih bener. Mana Handphone di simpen sama Papa lagi”
Setelah itu telepon kembali diputuskan Rehza. Hardi bingung.

Dengan hati gamang Hardi menutup telepon dan membaringkan badannya diranjang tempat tidurnya sambil melihat langit-langit kamar.
Hardi menyesali tindakannya.
            “Tidak semua yang aku pikirkan ternyata benar adanya” Batin Hardi bicara padanya.
            “Memilih diam dan bersabar adalah jalan terbaik untuk sebuah persahabatan dan cinta.
Walaupun terlalu sakit untuk itu”.

***

'Ja...
Gua seneng pernah kenal lu...

0 komentar: